Pertanyaan :
Kami telah mendengar dalam suatu hadits bahwa air kencing bayi laki-laki cukup diperciki saja dan untuk bayi perempuan harus dicuci.
Apakah hadits tersebut shahih ?
Apa makna nadhoh ( memerciki )?
Dan Apa hikmah perbedaan tersebut ?

Jawaban :

As Syeikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Aqil hafizhahullah pernah ditanya maslah ini, dan beliau menerangkan:
Istilah ghulam (dalam hadits tersebut) adalah bayi kecil yang masih menyusu dan belum makan makanan lain karena keinginannya sendiri.

Dan hadits yang ada tanyakan adalah hadits yang shahih.
Diantaranya :

عن أم قيس بنت محصن: “أنها أتت بابن لها صغير، لم يأكل الطعام إلىالنبي صلى الله عليه وسلم، فبال على ثوبه، فدعا بماء صلى الله عليه وسلم فنضحه ولم يغسله”

Dari sahabiyyah Qois binti Mihshan ,bahwasanya beliau datang kepada nabi dengan membawa bayi laki-laki yang belum makan makanan.
Kemudian bayi itu kencing pada baju nabi. Maka nabi meminta didatangkan air dan beliau memercikkannya dan tidak mencucinya. ( HR. Bukhari )

وعن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “بول الغلام الرضيع يُنضح، وبول الجارية يُغْسَل”

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, bahwa nabi telah berkata :
“diperciki air kencing bayi  laki-laki dan dicuci air kencing bayi perempuan”.
Berkata Qatadah menjelaskan hadits tersebut : hal ini selama belum makan makanan
(HR. Ahmad dan Tirmidzi )

وعن أم الفضل، قالت: بال الحسين بن علي في حجر النبي صلى الله عليه وسلم، فقلت: يا رسول الله، أعطني ثوبك، والبس ثوباً غيره حتى أغسله، فقال: “إنما ينضح من بولالذكر، ويغسل من بول الأنثى” (رواه أحمد وأبو داود، وقال الحاكم: هو صحيح)

Dari Ummu Fadl radiyallahu anha berkata ; ” Husein telah kencing di pangkuan nabi. Maka aku berkata ; Ya Rasulullah, berikanlah pakaianmu dan pakailah pakaian yang lain sampai aku selesai mencucinya. Maka beliau berkata ; cukuplah diperciki saja (baju yang terkena) air kencing laki-laki dan harus dicuci air kencing perempuan”. (HR. Ahmad dan Abu Daud )

Al Imam Ibnul Qoyyim telah menyebutkan dalam kitab Tuhfatul Maudud, beberapa hadits yang lain dalam bab ini. Dan beliau menjelaskan bahwa kebanyakan para ulama ahlul hadits dan fiqh berpendapat dengan pendapat ini. Dengan syarat bahwa bayi laki-laki tersebut belum makan makanan karena keinginan sendiri dan bukan diberikan secara paksa oleh ibunya.

Kemudian beliau menjelaskan beberapa hikmah perbedaan tersebut, diantaranya ;
– karena kencing bayi laki-laki lebih menyebar dan memancar daripada kencing bayi perempuan.
– karena kencing bayi perempuan lebih bau dari kencing bayi laki-laki yang biasanya relatif terasa lebih panas.
– karena  bayi laki-laki lebih sering digendong dan ditimang dibanding bayi perempuan ( mungkin karena lebih menggemaskan dan menyenangkan )
– Al Imam Ibnu Majah menambahkan dalam suatu riwayat tapi dianggap gharib (asing), bahwa  bayi laki-laki asalnya diciptakan dari air dan tanah sedangkan bayi perempuan asalnya diciptakan dari daging dan darah.
( selesai penukilan fatwanya )

Tambahan dari saya :
Air kencing bayi laki-laki tetap termasuk najis tapi mukhaffafah atau najis yang ringan.
Karena kalau tidak termasuk najis maka nabi tidak akan memerintahkan untuk memercikkannya.

الله الموفق
Allahlah yang memberikan taufiq kepada hambanya.
Dijawab oleh : Usatadz Abu Utsman Arifin