Blog Single

24 Aug

Hukum Minum Dengan Berdiri

PERTANYAAN :

Saya telah membaca beberapa hadits yang menyebutkan larangan minum sambil berdiri.
Apakah artinya adalah bahwa perbuatan itu hukumnya haram ?

JAWABAN :

الحمد لله
و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه و من واله

Telah datang beberapa hadits dari nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang larangan minum sambil berdiri. Diantaranya :

ما رواه مسلم (2024) (2025) عَنْ أَنَسٍ وأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ ( في لفظ : نَهَى) عَنْ الشُّرْبِ قَائِمًا .

Dari Anas bin Malik dan Abi said Al Khudri radhiyallahu anhuma, bahwa nabi membenci (dan dalam lafadz yang lain melarang ) dari minum sambil berdiri.
( HR. Muslim 2024 dan 2025 )

Dan disebutkan dalam hadits yang lain,

ما رواه البخاري (1637) مسلم (2027) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قَالَ : سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau berkata ; aku pernah memberi minum rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari air zam zam, kemudian beliau meminumnya sambil berdiri.
( HR Bukhari 1637 dan Muslim 2027 )

Kemudian juga diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu ;

وروى البخاري (5615) عن عَلِيّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنه شَرِبَ قَائِمًا ثم قَالَ : إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُ أَحَدُهُمْ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ ، وَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَ كَمَا رَأَيْتُمُونِي فَعَلْتُ .

Bahwa beliau pernah minum sambil berdiri kemudian berkata : “Sesungguhnya ada seseorang yang benci minum sambil berdiri. Dan sungguh aku pernah melihat Rasulullah melakukan sebagaiman kalian melihat aku melakukannya.
( HR. Bukhari 5615 )

وروى أحمد (797) أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ شَرِبَ قَائِمًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ النَّاسُ كَأَنَّهُمْ أَنْكَرُوهُ فَقَالَ : مَا تَنْظُرُونَ ! إِنْ أَشْرَبْ قَائِمًا فَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْرَبُ قَائِمًا ، وَإِنْ أَشْرَبْ قَاعِدًا فَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْرَبُ قَاعِدًا . قال أحمد شاكر في تحقيق المسند : إسناده صحيح اهـ

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu pernah minum sambil berdiri. Maka orang-orang melihatnya seakn-akan mereka mengingkarinya. Maka Ali bertanya : “apa yang kalian lihat ?
jika aku minum sambil berdiri maka sungguh aku pernah melihat rasulullah minum sambil berdiri. Dan jika aku minum sambil duduk maka sungguh aku juga pernah melihat rasulullah inum sambil duduk.
( HR. Ahmad 797. dan dishahihkan oleh syeikh Ahmad Syakir.)

وروى الترمذي (1881) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قَالَ : كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَمْشِي ، وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ . صححه الألباني في صحيح الترمذي .

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma telah berkata : “dulu kami pernah makan di masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan berjalan dan kami pernah minum dalam keadaan berdiri. ( HR. Tirmidzi 1881 dan dishahihkan oleh Imam Albani )

Berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas maka para ulama telah mengumpulkannya dan menetapkan bahwa larangan dalam hadits-hadits tersebut bukanlah larangan pengharaman akan tetapi lebih dalam rangka untuk bimbingan. Dan yang paling utamanya tetap minum sambil duduk. Adapun hadits yang menjelaskan bahwa nabi minum sambil berdiri menunjukkan bahwa hal itu dibolehkan.

Telah berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah ; “tidak ada dalam hadits-hadits tersebut permasalahan dan kelemahan, bahkan seluruhnya adalah hadits-hadits yang shahih. Dan yang benar bahwa larangan minum sambil berdiri adalah larangan makruh saja. Dan adapun minumnya Rasulullah sambil berdiri adalah penjelasan akan bolehnya. Dan tidak ada dalam hal itu permasalahan dan pertentangan”.

Jika ada yang bertanya : bagaimana bisa minum dengan berdiri dikatakan makruh padahal rasulullah melakukannya ?

Jawabannya adalah ;
jika perbuatan beliau adalah penjelasan akan bolehnya hal tersebut, maka hal itu tidak berhukum makruh. Bahkan penjelasan dari nabi adalah perkara yang wajib.

Contohnya adalah bagaimana membasuh anggota wudhu sekali-sekali dikatakan makruh padahal rasulullah pernah melakukannya.

Dan bagaimana thawaf di atas hewan tunggangan dikatakan makruh sedangkan beliau melakukannya bersamaan dengan adanya ijmak bahwa yang paling afdhal adalah membasuh ketika wudhu tiga-tiga kali dan thawaf berjalan kaki lebih utama untuk dilakukan. Dan beliaupun lebih sering melakukan hal-hal yang lebih utama tersebut. Dan hal tersebut adalah perkara yang jelas bagi siapa yang mempunyai ilmu tentangnya.

Bentuk pengumpulan dalil – dalil yang dhohirnya bertentangan seperti ini juga merupakan pendapat Al Imam Al Khatthaby, Ibnu Bathal dan At Thabary dan selain mereka.

Telah berkata Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalany : Dan jalan seperti ini adalah jalan yang paling baik, paling selamat dan paling jauh dari pertentangan.

Telah disebutkan dalam fatwa Lajnah Daimah ; Secara asal sebaiknya dan paling utamanya seseorang minum dengan duduk. Dan boleh baginya untuk minum sambil berdiri. Dan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun pernah melakukan keduanya dan  karena perkaranya lapang atau luas.

Dijawab Oleh Ustad Abu Utsman Arifin

Related Posts

Leave A Comment

%d bloggers like this: